Selasa, 19 Januari 2016

Belajar Dari Gunung



Belajar dari Gunung


Seringkali gunung tergambar dalam bentuk segitiga, artinya lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Level Top Management pun berada di tingkat teratas. Posisi teratas sebanding dengan tuntutan kemampuan lebih yang tidak hanya pakar dalam hal teknis dan konsep, namun harus jeli menganalisis permasalahan sebagai dasar penentuan kebijakan. Piramida rantai makanan juga demikian. Posisi teratas menunjukkan siapa yang lebih kuat, seperti elang -> ular -> tikus. Hirarki kebutuhan manusia yang digambarkan oleh Maslow juga, dan masih banyak lagi contoh dalam kehidupan nyata yang terwakili oleh pola tersebut, bahkan tingkat kesadaran manusia pun diasumsikan seperti gunung es. Para pakar menyebutkan bahwa alam bawah sadar manusia adalah akar dari sebuah piramida dan akar tersebut tak kasat mata. Artinya apa?
Saya ingin mengajak pikiran saya untuk melihat persamaan gunung dan kehidupan nyata.
Alam Bawah Sadar = Persiapan pendakian di desa terakhir/kaki gunung.
Menuju apa yang disebut “Top” pada sebuah gunung seringkali mengharuskan kita melewati beberapa gunung yang lebih rendah terlebih dahulu. Di sisi lain, kita akan selalu menjumpai desa terakhir, yaitu desa tertinggi sebelum menuju titik pendakian. Kadang, desa ini bukan bagian dari sebuah gunung. Saya menganggap desa dan gunung-gunung rendah tersebut sebagai alam bawah sadar kita. Kita berbicara tentang hal mendasar, yaitu posisi akar yang sama-sama “tak terlihat”.
Di sanalah kita akan mempersiapkan diri, baik kebutuhan logistik, porter maupun persiapan fisik dalam wujud aklimatisasi. Aklimatisasi di kaki gunung sangatlah penting karena manfaatnya yang sangat besar untuk menyamakan suhu badan dengan suhu lingkungan, mengatur kadar oksigen maupun ketinggian. Waktu aklimatisasi yang dibutuhkan akan berbeda bergantung pada gunung yang dituju, bisa selama beberapa hari, minggu dan bulan.
Persiapan di kaki gunung inilah yang akan menentukan keberhasilan dari sebuah pendakian. Sama halnya dengan alam bawah sadar yang akan menggerakkan alam sadar kita. Apa yang kita yakini, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang akan kita perjuangkan sebagai idealisme kita akan menentukan keberhasilan kita. Bekal yang kita miliki akan menjadi sangat berguna seperti mesiu yang digunakan oleh prajurit perang. Ups salah contoh hahaha kenapa sampai mesiu ya? Maksudnya, kerja apapun yang penting adalah keputusan awal danstate of mind kita.
Lembah = Masalah.
Ada gunung-gunung yang mengharuskan kita berjalan naik-turun untuk sampai ke “Top”. Kondisi harus turun ke lembah untuk naik ke tempat yang lebih tinggi sama saja dengan masalah-masalah yang kita hadapi. Masalah ada untuk meningkatkan kualitas diri kita. Artinya, jika kita dapat mengatasi satu masalah, seharusnya tidak akan menjadi masalah lagi ke depannya. Kita harus selalu bisa belajar dari sebuah masalah. Siapa yang mengatakan tidak ada pemandangan bagus di lembah? Lihatlah edelweiss yang bermekaran di lembah sebelum kita melewati jalur yang hanya dipenuhi oleh batu dan pohon Cantigi.
Jangan terlalu lama di lembah hanya karena terpesona dengan sebuah keindahan dan jangan terlalu lama berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Keluar dari lembah dan lihatlah jalan menuju puncak! Ketika kita berada di tempat yang lebih tinggi dari masalah, kita akan melihat secara holistik dan dari sudut pandang yang berbeda. Kita melihat keseluruhan lembah :)
Teman Seperjuangan vs Teman Sepintas
Ada banyak tipe teman di
dunia pendakian ini. Ada teman yang berjalan bersama-sama kita hanya dalam beberapa jam saja lantas memisahkan diri dan bergabung dengan kelompok lain. Ada teman yang memilih untuk turun seorang diri karena tidak sanggup dan teman-teman lainnya membiarkan saja. Ada teman yang selalu akan menunggu kita di pos terdepan, seperti, “Sampai jumpa di Pos 1. Sampai jumpa di Pos 2. Sampai jumpa di Puncak”.
Semuanya baik dan kita hanya perlu memahaminya saja. Kita hanya harus bisa melihat sebuah persamaan yang kita yakini bersama. Hal itu bernama kesepakatan.
Teman sejati adalah ia yang berjalan bersama-sama kita, teman yang jatuh bangun bersama kita, teman yang berproses bersama. Seorang teman yang bisa bergembira dan menangis bersama, teman yang memberikan semangat seperti supporter seumur hidup kita. Bersama-sama tidaklah selalu sama dengan bekerja sama, bukan? Jadi masih setuju dengan konsep teman sejati yang saya tuangkan di sana?
Ada banyak faktor yang menentukan sebuah pertemanan. Saya percaya sebuah konsep pertemanan yang serupa dengan pohon bambu. Teman-teman yang berdiri sendiri namun mereka bersatu di akarnya.
Di gunung, salah memilih teman pendakian bisa berakibat fatal. Ada banyak kasus kematian dan kehilangan rute hanya karena disebabkan oleh “teman”. Misalnya satu kelompok yang terpecah dua, satu memilih untuk ke puncak dan satu memilih untuk tetap di tenda. Kelompok yang ke puncak juga terpecah dua. Ada satu anggota yang memisahkan diri dan akhirnya kehilangan rute.
Sama seperti hidup. Kita butuh teman sejati untuk menjalani kehidupan ini. Ada rujukan pada tanaman yang mengisahkan pertemanan, yaitu jika ada batang tanaman yang lemah namun ditopang oleh batang-batang yang kuat, maka batang lemah tersebut akan tetap bisa berdiri kokoh. Teman-teman kita adalah cermin kita. Ingin melihat orang seperti apa si X? Lihatlah teman-temannya. Konsep ini tak selalu benar, namun logikanya bisa benar. Penting untuk memiliki teman baik.
Kenalan di Gunung
Gunung bukan milik pribadi. Jadi, tentu saja kita akan bertemu dengan banyak orang di sana. Orang-orang ini saya asumsikan sebagai mitra, guru, inspirator. Saya tak akan pernah menyebutkan adanya “saingan” di gunung. Kita tak memiliki “saingan”. Satu-satunya saingan kita adalah diri sendiri. Saingan kita adalah target yang kita tetapkan sendiri untuk diri kita. Saingan kita adalah diri lama kita. Itu saja sudah.
Orang-orang yang kita temui tersebut memberikan kita petunjuk ketika kita bertanya, “Berapa lama lagi kami akan tiba di Pos 1?” ataupun mereka memberikan arahan pada kita, “Awas terjadi badai di Puncak seperti kemarin”. Mereka menyemangati kita, “Ayo sedikit lagi sampai”. Padahal apa? Padahal masih sangat jauh hahaha Ya, semua pendaki adalah penipu. Kalimat itu semacam jargon para pendaki. Semangat memang bukan soal jarak, namun perulangan. Bertemu satu pendaki dan berganti pendaki lain dengan kata-kata yang sama, tetap saja membuat kita semangat, bukan? :)
Musuh? Apa ada musuh di gunung? Tanpa berandai-andai ada mafia di gunung, jawabannya adalah tidak ada.
Tidak pernah ada orang asing di gunung. Semuanya adalah saudara yang akan saling membantu satu sama lain. Mengapa di dunia nyata tidak kita terapkan konsep ini?
Tidak ada saingan di tempat kerja. Tidak ada musuh. Semua orang bergerak bersama dengan kecepatannya sendiri menggapai tujuan masing-masing dalam komunitas/pertemanan yang dipilih sendiri.
Teman seperjuangan di gunung saya anggap sebagai komunitas hidup kita dan kenalan digunung sebagai komunitas-komunitas lain. Terlihat sebagai 2 hal yang terpisah, namun sesungguhnya tidak. Kita bersinergi dan membentuk sebuah rantai.
Belajar dari Perjalanan
Saya sering menyadari banyak hal ketika berjalan. Menurut saya, salah satu cara menyatu dengan alam adalah dengan mendengarkan suara alam itu sendiri, bukannya mendengarkanmp3 dengan headset kita sendiri :)
Ketika kita tidak tau arah dan hari mulai gelap, biasanya kita akan mengikuti langkah kaki teman di depan kita. Teman tersebut lebih mengerti dibandingkan kita, maka kita percaya dengannya. Sy malahan terbiasa mengikuti kaki teman sy sama persis. Jika ia melangkah dengan kaki kiri, sy pun demikian, dan sebaliknya.
Senter adalah alat bantu yang sangat berarti untuk menemukan jalan lebih cepat dibandingkan meraba-raba pijakan kita. Dalam hidup, saya pikir penting sekali untuk memilih siapa orang terdepan yang akan kita ikuti ketika kita kehilangan arah dan pilihlah “alat bantu” yang tepat.
Selangkah demi selangkah, Istirahat dan Fokus pada Tujuan
Apa yang dapat kita pelajari lagi dari gunung?
Selama kita fokus pada tujuan, berjalan selangkah demi selangkah pun akan berhasil. Penting sekali untuk memiliki irama pada saat kita berjalan dan bernafas. Satukan diri kita pada nafas semesta maka langkah kita akan ringan dan hati kita pun riang. Beristirahatlah bila diperlukan, namun kita tak bisa seenaknya saja. Kita harus mempertimbangkan banyak faktor seperti bekal makanan, waktu, cuaca dan fisik.
Dalam hidup, dalam mencapai tujuan, kita tak boleh lengah sama sekali. Harus fokus dan waspada. Bila kita terlalu santai dalam menjalani hidup, misalnya tidur selama 14 jam/hari, maka kita harus kembali pada pertanyaan: “Apakah tujuan akan tercapai jika alokasi waktu tidur kita adalah 14 jam/hari?”
Banyak hal yang harus dipertanyakan pada diri sendiri, seperti, “Jika saya tak bekerja, berapa lama uang ini akan menghidupi saya?”, “Jika tak berolahraga, apakah program diet saya akan tercapai?”
Tujuan mengendalikan hidup kita. Jika tanpa tujuan, kita hanya akan berputar-putar dari pohon ke pohon saja tanpa bisa berdiri di atas awan.

Sumber : disini

Senin, 18 Januari 2016

Traveling, Salah Satu Perintah Allah Yang Dianjurkan


Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dinamis. Sebab tidak ada sejengkal tanahpun yang tidak ingin dijelajahinya. Bahkan, jika memungkinkan semua daerah ingin dijangkau oleh manusia. Salah satu buktinya ialah suksesnya perjalanan ruang angkasa ke bulan, sebagai tanda kegigihan manusia untuk merealisasikan harapannya menjelajahi bumi Allah

Traveling, Salah Satu Perintah Allah Yang Dianjurkan

Traveling memang merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama bila dilakukan bersama pasangan hidup dan keluarga. Pada dasarnya traveling bukan hanya untuk menghambur-hamburkan uang, ajang pamer-pameran atau hanya untuk mengisi waktu libur, namun sejatinya ketika kita melakukan traveling ada banyak hikmah yang bisa diambil dari setiap perjalanan yang dilakukan. 

Bahkan ternyata traveling merupakan salah satu perintah Allah yang ditujukan kepada umat-Nya. Bagaimana bisa dan seperti apakah traveling yang dimaksud ? berikut ulasan selengkapnya.

Rihlah atau traveling dalam kacamata Islam sangat dianjurkan dan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Perintah untuk melakukannya secara tegas tercantum dalam Al-Qur’an. Bahkan, tidak sedikit ayat dalam Al-Qur’an yang menginspirasi para pendahulu kita untuk melakukan perjalanan jauh. Berikut diantaranya :

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. 67:15)

“Setelah didirikan shalat (Jum’at) maka bertebaranlah kamu di muka Bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah. Dan perbanyaklah berdzikir kepada Allah agar kamu beruntung. “ (QS. 62:10)

Kedua ayat ini menjadi bukti bahwa Allah memerintahkan umatnya untuk menjelajahi Bumi dan mendorong kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja, sebab Allah tidak akan membatasi kita dalam mencari penghasilan.

Traveling tidak hanya terbatas pada pengertian sempit seperti tamasya atau kunjungan kerja, namun juga meliputi segala gerak atau langkah kita dari satu tempat ke tempat lain yang dibarengi dengan niat ibadah. 

Pada masa awal penyebaran Islam, rihlah merupakan salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Seperti makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina, merupakan salah satu contoh giatnya para sahabat bepergian untuk menyebarkan Islam.

Selain itu, dalam pembuatan kitab “Sahih Bukhari” Imam Bukhari kerap kali melakukan perjalanan yang sangat jauh hanya untuk memverifikasi satu hadist pendek. Padahal dalam kitab tersebut memuat ribuan hadist. Sehingga tidak terbayangkan berapa orang yang telah ia jumpai dan seberapa jauh perjalanan yang ia lakukan. Karena sebab itulah yang akhirnya membuat Imam Khatib Al Baghdadi, menyusun kitab yang khusus membahas perjalanan hadist-hadist tersebut, yang dikenal dengan Al Rihlah Fii Thalabi Hadist atau perjalanan mencari hadist.

Bahkan, jauh sebelum itu semua Rasulullah juga telah melakukan berbagai perjalanan jauh untuk berdagang. Hal-hal inilah yang menjadi bukti bahwa seorang Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global. 

Selain itu, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari perjalanan traveling, diantaranya :

1. Doa mudah dikabulkan 
Dalam sebuah hadist dari Rasulullah SAW disebutkan bahwa dari tujuh golongan manusia yang doanya mustajab di sisi Allah diantaranya adalah doa seorang musafir sampai ia kembali dari perjalanannya. 

2. Membuat hati lebih peka
Saat kita melakukan perjalanan dan melihat lingkungan yang berbeda dengan segala keindahan yang ditampilkan, membuat kita sadar dengan kebesaran Allah sehingga hati dan perasaan menjadi lebih bahagia dan bersyukur

3. Memperbanyak silahturahim
Akan ada banyak orang yang akan kita jumpai dalam setiap perjalanan baik yang telah dikenal sebelumnya atau yang baru dikenal saat dalam perjalanan.

4. Melihat kekayaan budaya di muka bumi
Dalam Al-Qur’an  surat Ar-Ruum ayat 22 disebutkan bahwa diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan langit dan bumi serta berlain-lainan bahasa dan warna kulit manusia. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Ayat ini menjelaskan bahwa saat kita melihat dunia dengan segala pernak-perniknya termasuk perbedaan bahasa dan warna kulit merupakan salah satu manfaat dari traveling. Sehingga kita dapat menyadari bahwa  Allah merupakan Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan segala perbedaan dan menjadikannya indah. 

Demikianlah ulasan mengenai perintah Allah dalam melakukan perjalanan di muka bumi.  Traveling memang merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, dan akan lebih baik bila hal tersebut diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!

“Kamu pakai apa sih kalau naik gunung?”

Ehm, saya kadang suka heran melihat orang yang sedang mendaki, tapi setelannya udah kayak mau ke mall.

Nggak salah sih, tapi menurut saya naik gunung – atau backpacking ke alam bebas – adalah salah satu bentuk olahraga. Dan olahraga seharusnya memakai pakaian olahraga, kan? Rasa-rasanya aneh kalau kita main futsal tapi pakai kemeja flanel dan jeans.

Memang terlihat nggak aneh sih, justru keren. Tapi saya jamin, yang pakai pakaian keren seperti itu pasti nggak nyaman sama sekali.

Saya menganut layering system dalam berpakaian ketika melakukan kegiatan pendakian. Sistem pelapisan pakaian ini memungkinkan kita untuk mengatur temperatur tubuh kita dengan menyesuaikan lapisan yang dikenakan.

Jadi, kita nggak perlu bawa jaket-jaket tebal yang terlalu besar macam mau ke kutub utara gitu…

Ada tiga lapis yang perlu kita ketahui. Lapisan pertama (base layer) yang langsung menyentuh kulit untuk mengatur kelembaban; lapisan kedua (insulating layer) untuk melindungi dingin dan memberi kehangatan #eaaa; dan lapisan terakhir (shell layer) adalah melindungi kita dari cuaca alam bebas.

Mari kita lihat satu-satu yuk kaka ~

1. Base Layer : Pengatur Kelembaban

Lapisan pertama ini tujuannya tak hanya untuk menyerap keringat, tetapi juga membuatnya menguap ke lapisan berikutnya. Makanya saya tak menyarakan memakai bahan katun karena hanya akan menyerap keringat, tapi tak bisa menguapkannya.

Keringat di baju nggak menguap = lepek lepek basah dan bau nggak sedap mirip sambel oncom basi. Been there dan nggak mau lagi hihi.

Lebih lagi, bahun katun bisa meningkatkan resiko hipotermia. Saya pernah memakai katun sebagai base layer dibawah jas hujan. Padahal air sama sekali tak tembus, tetapi karena berkeringat dan tak menguap, saya pun merasa kedinginan.

Untuk base layer ini, lebih baik memakai bahan seperti wol atau sintetis seperti polyster. Karena bahan-bahan ini tak hanya menyerap keringat, tapi juga mentransfernya ke lapisan luar baju.

Hasilnya : badan kita lebih kering saat berkeringat, dan baju juga akan cepat kering setelah itu. Dan yang paling penting : NGGAK BAU :))


2. Insulating Layer

Insulating layer ini fungsinya buat “menjebak” udara panas di dekat tubuh sehingga kita akan tetap hangat. Untuk lapisan ini, saya menyukai bahan serat alami seperti sweater berbahan bulu angsa (down).

Bahannya sangat ringan dan kecil saat dipacking. Tapi hanya bisa dipakai saat keadaan kering. Tapi belum lama saya melihat websitenya the north face ada teknologi bernama thermoball, bahan yang menyerupai down tetapi bisa tetap digunakan walaupun basah.

Bahan selain down yang populer ada fleece,  di Indonesia umumnya disebut sebagai bahan ‘polar’. Polar ini sebetulnya adalah salah satu teknologi per-fleece-an. Tapi biasa, orang Indonesia suka menyebut brand sebagai nama benda tersebut.

Fleece juga ringan, menahan panas dengan baik, tetapi agak besar saat dipacking karena bahannya yang cenderung tebal. Jaket fleece biasanya jauh lebih murah daripada down.

Untuk musim dingin, tinggal mengganti lapisan kedua ini dengan bahan down atau fleece yang lebih tebal. 

3. Shell Layer

Lapisan terakhir ini sangat penting untuk cuaca di gunung yang tak bisa ditebak. Lapisan ini penting, karena mencegah air masih ke dua lapisan bawah. Jika air sudah masuk, maka hancur sudah fungsi layering ini.

Shell dapat berupa jaket windproof (anti-angin) biasa hingga jaket windproof-waterproof-breathable dengan teknologi macam-macam yang harganya bisa buat beli sepeda motor bekas.

Saat membeli jakcet shell, pastikan ukurannya pas saat kita memakai dua lapisan di bawahnya.

Lebih baik gunakan shell yang beritpe windproof/Waterproof/breathable : Ini tipe yang paling saya sarankan. Teknologi seperti Gore-Tex masuk dalam kategori ini. Tipe ini menahan air, menahan angin, tetapi tetap bisa membuang uap keluar. Jadi saat memakainya di tengah terik matahari pun tak akan terlalu gerah.

Ada juga tipe yang lebih murah seperti hanya windproof, atau windproof/waterproof. Tapi untuk kegiatan alam bebas yang tentunya tingkat pergerakannya tinggi, saya menyarankan tipe yang breathable agar lebih nyaman. Lebih mahal sih memang, tapi gak akan menyesal saat kamu pakai di gunung.


4. Lapisan Tambahan – your style layer.

Ini adalah lapisan yang bisa kita bawa buat narsis. Tapi jangan dipakai pas jalan ya, pas foto-foto aja. Have fun! :))


JANGAN PAKE JEANS YA! :)

So, bagaimana pakaian kamu saat di gunung? Share di komen ya!

Thanks!

Sumber : Cek sini ya!!

Rabu, 13 Januari 2016

Pendakian Rinjani via Sembalun-Senaru (Part 2)


Hari ke 2 (18 Agustus 2015)

Pagi itu kami disambut dengan hangatnya matahari dan aroma kopi yang sudah disiapkan oleh porter kami. Setelah sarapan dan foto-foto narsis, kamipun mulai membereskan tenda dan melanjutkan lagi menghajar bukit penyesalan. Pukul 9 kamipun berangkat, Yups berangkat menghajar Bukit Penyesalan yang tiada habisnya karena setelah kita sampai di titik “puncak” bukit kita langsung dihajar bukit baru lagi yang lumayan bikin engap dan lelah. Apalagi sinar matahari dan debu sukses menghatam perjalanan kami melewati Bukit Penyesalan.

Jalur Bukit Penyesalan

Setelah sekian jam kita menghabiskan waktu dan tenaga serta emosi di Bukit Penyesalan, akhirnya kami sampai di Plawangan Sembalun. Sampai di sana, kami langsung dimanjakan dengan pemandangan yang mengagumkan dari Danau Segara Anakan yang luar biasa keren. Porter kamipun sudah memilihkan tempat untuk mendirikan tenda dengan view terbaik, yaitu langsung menghadap ke Danau Segara Anakan. Dan itu kereeeeeeenn banget !!! Ohya di daerah ini banyak kita jumpai monyet-monyet yang liar, jadi janganlah heran kalau mereka menghampiri tenda pendaki untuk mencari makanan. Sumber air pun melimpah ruah, jadi tidak perlu khawatir untuk persiapan summit esok harinya.
Karena posisi tenda sudah keren, maka gak afdol donk kalau ga berfoto-foto ria sambal menikmati sunset di Plawangan Sembalun. Malam menyambut dan kamipun harus segera tidur, karena besok akan melakukan summit pukul 3 pagi.
Plawangan Sembalun
Senja di Plawangan Sembalun



Hari ke-3 (19 Agustus 2015)
Summit Attack
Pukul 1 pagi kami dibangunkan oleh Bang Roni untuk persiapan summit attack. Persiapan kami lakukan. Makan dan pengecekkan barang-barang yang dibutuhkan untuk summit ke puncak Anjani. Setelah melakukan persiapan dan berdoa, kamipun melakukan summit ke puncak Anjani. Perjalanan dilakukan dengan tempo pelan, karena dingin dan jalur nya lumayan padat. Jalur didominasi dengan pasir jadi disarankan untuk memakai Geiter agar passir tidak masuk ke dalam sepatu. Setelah perjalanan sekitar setengah jam, rombongan kami terbagi menjadi 2 karena ada teman yang kurang enak badan dan akupun ikut ke rombongan pertama. Rombongan pertama terdiri dari 4 orang (aku, Denis, Riska dan Bang Yul). Kamipun berjalan perlahan, lalu istirahat. Nafas mulai tersengal, udara makin tipis, kaki mulai lemas dan air tinggal sedikit. Akupun saat itu rasanya ingin sekali menyerah dan menangis, tapi melihat puncak yang sedikit lagi, disitu aku pun merasa ada dorongan meskipun setiap 10 langkah aku berhenti.
Dan tepat pukul 7 pagi, rombongan pertama akhirnya tiba di puncak Anjani. Yang aku lakukan pertama kali adalah duduk dan menangis seakan masih belum percaya kalau akhirnya kami sampai Puncak Gn.Rinjani. Sekitar 15 menit kemudian, rombongan ke-2 akhirnya datang. Dan kamipun lunas menuntaskan misi mencapai puncak Gn.Rinjani. Ga ada yang remedial!!
We are in here, top of 3726 mdpl
And I Got it!! 3726 mdpl done!!
Setelah puas foto-foto cantik plus kece, kamipun mulai bergegas turun karena angin bertiup kencang dan dingin mulai menyergap. Perjalanan turun kami lalui lebih cepat sekitar 3 jam dan kami disuguhkan pemandangan Danau Segera Anak dan Plawangan Sembalun dari atas.

Sampai di tenda kamipun langsung istirahat sambal membersihkan diri dan memasak makanan sebelum melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak.
Sekitar pukul 12 kamipun melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak. Rute untuk ke Danau Segara Anak dimulai dengan jalan menuruni Plawangan Sembalun yang didominasi batu. Dan di jalur ini lah akhirnya sepatu riska pun tak terselamatkan. Setelah melewati jalur batu, kamipun dihadapkan pada jalur yang berupa padang rumput dengan pemandangan yang keren.  Sekitar 3 jam perjalanan, kami puns sampai di Danau Segara Anak. Setelah mendirikan tenda, kami diajak oleh Bang Roni untuk ke sumber air panas. Berendam setelah menempuh perjalanan yang luar biasa melelahkan aadalah sesuatu yang sulit terelakkan kenikmatannya.





Malam semakin larut dan kami pun setelah makan malam langsung pelor semua. Dan kesunyian danau Segara Anak seolah memeluk kami dalam kelelapan.  Selamat malam Danau Segara Anak ………

Hari ke 4 (20 Agustus 2015)
Foto dulu di Danau Segara Anak
Pagi di danau Segara Anak memang menyenangkan. Kamipun mencoba mancing dengan umpan seadanya. Dengan keahlian ala kadarnya, akhirnya kami dapat ikan 2 ekor dan kecil-kecil. Hahahah tak apalah cukup buat jadi lauk tambahan saat sarapan. Setelah sarapan, pukul 9 kami mulai membereskan tenda. Setelah beres, tak lupa kami foto keren di depan Danau Segara Anak dengan latar Gunung Barujari yang gagah.

Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan diawali menyelusuri tepian Danau Segara Anak. Tak lupa kami foto-foto kalau menemukan spot yang fotoable. Hehehehe..
Setelah menyelusuri tepian Danau Segara Anak, kami langsung dihadapkan pada tanjakan menuju Plawangan Senaru. Jalur ini didominasi oleh batu-batu besar dengan beberapa titik yang mengharuskan kita melipir di tepian tebing. Lumayan menguras energi apalagi saat itu kakiku mulai kapalan parah. Di sepanjang jalur ke arah Plawangan Senaru, terdapat beberapa pos bayangan untuk istirahat seperti pos Watu Ceper. Disini banyak dijumpai batu besar tapi ceper atau salah satu sisinya datar. Dan ada satu titik yang fotoable banget dengan background Danau Segara Anak. Setelah jeprat jepret para model dengan berbagai pose, akhirnya kami melanjutkan lagi perjalanan.


Pukul 13.00 akhirnya kami sampai di Plawangan Senaru yang disambut dengan teriknya matahari. Setelah foto-foto dikit, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke pos selanjutnya. Jalur yang kami lewati didominasi dengan padang rumput yang lumayan luas.


Plawanngan Senaru
Setelah melewati savanna, kita akan dihadapkan pada lebatnya hutan senaru. Kamipun mulai memacu langkah kami, karena jalurnya turun dan teduh. Kaki yang udah mulai lemes dan nyut-nyutan akibat kapalan seolah kuabaikan demi mempercepat langkah. Sampai di Pos 2 kamipun istirahat untuk makan dan mengumpulkan energi. Setelah energi kembali pulih, kamipun melangkah lagi dan akhirnya sampai di pintu gerbang Senaru pukul 18.30.
Pintu Pendakian Senaru

Pada pintu gerbang Senaru, kami menjumpai sebuah warung yang ramai oleh pendaki. Namun yang kukira perjalanan sudah selesai ternyata belum, kami harus berjalan sekitar setengah jam lagi untuk sampai di basecamp Senaru. Jalur yang kami lewati merupakan jalur pemukiman penduduk yang melewati kebun kopi dan kandang ternak di kanan-kiri jalan. Dan akhirnya kami sampai di basecamp Senaru pukul 19.00. Kami pun langsung menuju ke salah satu warung dan memesan nasi goreng plus minuman dingin yang menyegarkan. Sambil menunggu mobil yang mengantarkan kita ke Mataran, kami membersihkan diri sambal membeli cenderamata dari Rinjani. Mobil pun akhirnya datang dan kita berangkat menuju Mataram. Dan perjalanan Rinjani ini akhirnya berakhir seiring dengan laju mobil yang meninggalkan kawasan Gunung Rinjani. Selamat Tinggal Rinjani, See you next time :D

Selasa, 12 Januari 2016

Pendakian Rinjani via Sembalun-Senaru (Part 1)



16 Agustus 2015
Pendakian ke Gn.Rinjani kali ini sudah direncanakan hampir 3 bulan sebelum keberangkatan. Hal itu dilakukan mengingat budget dan waktu yang dibutuhkan lumayan banyak. Apalagi timku merupakan pegawai semua, jadi harus bernegosiasi dengan cuti terlebih dahulu. Untuk pendakian ke Gn.Rinjani dibutuhkan waktu normal 4 hari 3 malam. Setelah berdiskusi di grup whatsapp, akhirnya kita memutuskan untuk berangkat ke Lombok tanggal 16 Agustus 2015. Tim kami terdiri dari 2 rombongan kecil yaitu dari Bandung 4 orang (Aku, Inna, Wawan, Koh Biyan) dan Jakarta 3  orang (Rizka, Bang Yul, Bang Aziz) dengan meeting point di Bandara Praya Lombok.
Pada hari keberangkatan, tim Jakarta mendapatkan jadwal penerbangan lebih awal daripada tim Bandung sehingga otomatis mereka sampai terlebih dahulu. Untuk penerbangan dari Bandung, kami menggunakan maskapai Citilink dengan keberangkatan jam 10.00. Saat sampai di Bandara Praya Lombok, kami pun mendapat 1 orang tambahan personil dari Majalengka, Denis. Dan akhirnya kita bertemu dengan rombongan Jakarta di masjid Bandara Praya. Sambil menunggu mobil jemputan, kamipun istirahat dan sholat terlebih dahulu.

Mobil jemputan pun datang. Kebetulan wawan punya sodara di Lombok jadi dia bisa membantu mengakomodir. Dan kamipun dibawa ke rumah sodara wawan di daerah Aikmal. Perjalanan terasa lancar dan jalanan pun masih sepi. Sekitar pukul 5 sore kamipun tiba di rumah sodara wawan untuk beristirahat sebelum memulai pendakian esok hari.


Hari 1 Pendakian (17 Agustus 2015)
Pukul 5 pagi, kami pun bangun tidur dan langsung menyiapkan diri dan peralatan untuk pendakian. Tak lupa kamipun belanja logistic terlebih dahulu di Pasar Aikmal yang letaknya tidak jauh dari rumah sodara wawan. Setelah mandi dan sarapan, sekitar jam 9 kami pun berangkat menuju Desa Sembalun. Perjalanan cukup memakan waktu yang lumayan panjang. Melewati perkampungan hingga hutan yang masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Panasnya udara jam 10 pagi tak terlalu terasa, karena pemandangan keren dan hawa yang sejuk telah disajikan selama perjalanan ke Desa Sembalun.
Jalur menuju Desa Sembalun

Sekitar pukul 10 akhirnya kamipun sampai di Desa Sembalun dan bertemu Bang Roni sebagai porter kita. Setelah pembagian logistic dan berdoa, kamipun berangkat pukul 10.45 dengan cuacanya yang panasnya mentereng. Bismillah…..
Here we go!!

Setelah melewati gerbang pendakian Sembalun, kamipun langsung ditantang dengan hamparan savanna yang luas dan panas. Panasnya matahari saat itu lumayan menguras tenaga dan persediaan air minum kami. Ditambah dengan minimnya pohon membuat kami cepat lelah. Sekitar 2 jam perjalanan, kamipun sampai di Pos 2 pukul 13.00 . Pos 2 di tandai dengan adanya bangunan kecil semacam shelter di tengah sabana. Tempatnya sempit sih tapi lumayan untuk melepaskan lelah. Setelah istirahat sekitar 10 menit, kamipun melanjutkan perjalanan.
Jalur menuju Pos 2
Pos 2  di tengah savana

Jalur perjalanan masih didominasi dengan savanna yang naik turun. Perjalanan dari pos 2 ke pos bayangan membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Pos Tengengean sendiri berada di sekitar jembatan dimana ada pohon besar yang digunakan untuk berteduh. Kami istirahat di sini cukup lama. Makan dan sholat pun kami lakukan. Sekitar 1 jam kami istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Perjalanan ke Pos 3 pun masih sama, didominasi dengan savanna cantik yang menhijau dengan gradasi kuning dan coklat. Matahari sudah tak terlalu panas, karena sudah mulai tergelincir ke arah barat. Akhirnya setelah berjalan sekitar 1 jam, kami pun sampai di Pos 3. Pos 3 terletak di lembah antara 2 bukit. Kamipun rencana awal ingin mendirikan tenda di sini, namun porter kami menyarankan untuk melanjutkan saja.
Pos Bayangan Tengengean

 
Pos 3 diantara 2 bukit
Selepas pos 3, kami langsung di hadapkan pada Kawasan 7 Bukit Penyesalan yang konon katanya banyak membuat orang merasa menyesal karena sangat melelahkan. Saat mendaki satu bukit penyesalan, tenaga kami benar-benar sudah terkuras habis, dan akhirnya kami pun memutuskan untuk membuka tenda disini saja. Setelah selesai mendirikan tenda, senja pun mulai menyapa dan malam mulai datang. Kamipun mulai memasak untuk makan malam. Dan menu makan malam kali ini adalah ayam taliwang plus tumis kangkung ala chef riska nasi yang matang sempurna ala chef roni. Maknyuss…. Selesai makan malam, kamipun langsung masuk ke tenda untuk beristirahat. Selamat malam Rinjani,,,,,,
Senja dari Bukit Penyesalan